
Cerpen ini berjudul „Sumur“, karya dari Gus TF Sakai yang dimuat di Kompas pada hari minggu tanggal 16 april 2006. secara pribadi saya merasa cerpen ini tidak cocok bagi pembaca pemula seperti saya karena mengunakan kode-kode bahasa dan metafor yang sulit dimengerti oleh khalayak luas. Walaupun saya sebagai pemula menyadari kemampuan dalam memahami cerpen yang tergolong susah ini, saya tertarik untuk mencoba tantangan ini.
Cerpen ini dengan permainan katanya seakan ingin menembus batas kebiasaan untuk menampilkan sebuah pesan atau gagasan yang menurutnya akan muncul bila kita mengunakan metafor yang tidak lazim. Cerpen ini tergolong sulit untuk dapat dimengerti karena cakupannya yang luas sehingga mengandaikan wawasan pembaca yang cukup luas dan aktual disamping itu alur cerita yang digunakan pun tidak dapat secara langsung untuk diikuti. Agak kesulitan untuk menemukan benang merah yang menyatukan seluruh potongan cerita yang secara sekilas tidak berhubungan.
Untuk mengerti sedikit mengenai makna cerpen ini saya mencoba untuk masuk melalui kata-kata kunci pada cerpen ini yaitu sumur, ketidakpercayaan kepada mata, darah, korupsi, televisi, burung hitam, Fumeripits, desoipits dan biwiripits serta guru dan murid yang mau mencari guci. Disamping kode bahasa saya juga mencoba menghubungkan dengan keadaan aktual bangsa kita dimana korupsi tetap menjadi topik yang hangat walaupun telah berumur belasan tahun. Disamping itu masalah tarik menarik antara modernisme dan konservatisme yang dilambangkan dengan gerakan Islam, menjadi semacam benih „renaisance“ di Indonesia.
Sumur disini dimaknai sebagai sebuah lubang hitam yang masih menjadi misterius bagi orang awam. Sebuah lubang yang menyedot apa pun yang didekatnya dihanya benda-benda yang ia sedot tetapi juga nilai-nilai yang menjaga agar kenyataan jauh dari kefanaan. Ketika korupsi dan segala kejahatan dipraktekan tanpa ada rasa malu dan bersalah, nilai-nilai ini seperti tersedot masuk kedalam sumur. Apa yang nyata dan tidak nyata menjadi kabur. Mata tidak lagi dipercayai sebagai indera penglihatan yang selama ini menjadi salah satu pemberi informasi kepada kita mengenai dunia luar. Pergolakan manusia dalam tegangan antara yang nyata dan tidak nyata membuat ia terjepit dan kecapaian untuk bisa menumbuhkan kemanusiaannya.
Kejahatan yang akibat efek polarisasi menjadi semakin ekstrem seperti memecahkan kepribadian kita karena dunia ideal dan dunia nyata tidak lagi dapat selaras. Terjadi pergolakan hebat antara apa yang kita lihat, kita rasakan dan kita pikirkan. Taman yang dulu dipagari oleh nilai-nilai telah dihancurkan menjadi sebuah kenihilan dimana apapun menjadi mungkin dan apapun menjadi tidak mungkin.
Keruwetan cerpen ini mengambarkan bagaimana pertarungan kita dengan perkembangan jaman dimana kita semakin tertinggal oleh gerak zaman ini. Waktu menjadi semakin terbatas untuk bisa berefleksi dan mengumpulkan kembali puing-puing yang berserakan.
Bau-bau mistis juga tercium cukup banyak dalam cerpen. Bau mistis disini ingin menunjukan kekalahan kita terhadap gerak perubahan pada masyarakat yang begitu cepat, sehingga akal kita tidak dapat lagi memformulasikan apa yang kita lihat untuk menjadi sebuah pengertian yang akhirnya menjadi dasar tindakan. Kekalahan ini menyebabkan manusia seperti dilepaskan dari pijakan yang ajek sehingga ia mempersepsikan dunia menjadi mistis atau lebih tepat misterius, gelap, tidak masuk akal, kosong, dimana hal-hal ganjil dapat saja terjadi.
Cerpen ini ditutup dengan cerita pencarian sebuah guci yang berisikan emas, keris dll yang dicari oleh seorang lelaki yang berguru kepada seseorang. Di waktu yang telah diramalkan sebagai waktu yang paling tepat untuk mengambil guci tersebut, mereka malahan tidak menemukan guci itu. Mereka hanya menemukan sebuah sumur yang di dalamnya mereka melihat seorang gadis menatap televisi dengan kosong serta seorang gadis gila yang berteriak teriak ke arah dua orang yang sedang mengayau temannya.
Sebenarnya akhir cerita ini kurang dapat saya mengerti dengan baik karena saya merasa cerita terakhir ini tidak memiliki hubungan dengan cerita sebelum kecuali sumur yang mereka temukan yang di dalam mereka melihat gadis yang pada awal cerita telah diceritakan.
Sumur menjadi kata kunci atau benang merah dari rangkaian cerpen ini. Cerita ini diawali dan diakhiri dengan sumur. Ini bagi saya seperti kita menemukan jalan buntu. Terkadang kita harus membiarkan suatu masalah tidak terselesaikan dan menjadikannya lubang hitam yang sulit untuk menemukan dasarnya. Sumur menjadi lambang kekalahan kita atau ketidakmampuan kita untuk hidup selaras dengan perubahan jaman yang begitu cepat dan terkadang menghimpit kita sehingga kita harus mengakui ketidakmampuan kita dan membiarkan “sumur kehidupan” kita tetap gelap dan tak berdasar.
Kesan terakhir yang ingin saya sampaikan adalah. Bila membaca cerpen ini saya jadi teringat akan sebuah komposisi lagu karangan Slamet Abdul Syukur yang berjudul “Svara” yang sempat dibawakan dengan indah sekali oleh pianis Jepang Eriko Takesawa pada acara konser di Goethe minggu kemarin. Bau-bau mistis yang kental yang dipadu dengan suasana skeptis sangat terasa. Adanya kejailan untuk bermain dalam melodi dan dalam kejailan itu kita diajak untuk masuk ke dalam ritme sederhana yang diciptakan pada awal komposisi. Nuansa ketika masuk pada ritme itu, saya persepsikan sama seperti nuansa Sumur pada cerpen ini dimana kegelapan dan ketidaktahuan mengalami kepekatan. Disamping kegelapan dan ketidaktahuan, sumur juga melambangkan ketersesatan di tengah jaman yang sungguh cepat berubah.
Kritik
Tingkat kesusahan cerpen ini menurut saya di satu sisi menjadi kelemahannya karena akan mengurangi jangkauan pembaca yang akhirnya pesan-pesan itu susah untuk tersosialiasikan tetapi dilain pihak kesusahan ini juga membuka kemungkinan baru untuk mendekati realita dengan cara yang berbeda dari yang biasa, yaitu menemukan keteraturan baru dalam ketidakteraturan.
Cerita yang dibuat sedemikan rumit terkesan bagi saya terlalu memperbesar masalah atau terlalu melebih-lebihkan masalah, sehingga kontribusinya malahan dirasakan sebagai beban oleh bebagai pihak khususnya pada pembaca pemula. Disamping itu ada kecenderungan pada kesenian

Tidak ada komentar:
Posting Komentar